Kabar Bantaeng– Gelombang protes dari kalangan masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga, pecah di Kabupaten Bantaeng pada Kamis, 4 September 2025. Mereka menamakan diri sebagai Perempuan Bersuara, sebuah kelompok spontan yang terbentuk dari keresahan warga akibat aksi demonstrasi yang dilakukan Serikat Buruh Indonesia Pekerja Eksportir KIMA Bantaeng (SBIPE KIBA).
Sejak Senin lalu, para buruh yang tergabung dalam SBIPE KIBA menggelar aksi demonstrasi menuntut perhatian pemerintah atas kondisi kerja mereka. Namun, bentuk aksi yang dilakukan—yakni menutup akses jalan poros Bulukumba–Bantaeng–Jeneponto—memicu kemarahan banyak pihak, terutama masyarakat pengguna jalan.
Jalan Lumpuh, Aktivitas Warga Terganggu
Penutupan jalan poros utama selama tiga hari berturut-turut membuat arus lalu lintas lumpuh total. Dampaknya pun berantai.
-
Pelajar kesulitan menuju sekolah karena kendaraan umum terjebak macet.
-
Pedagang dan pelaku UMKM kehilangan pembeli, lantaran akses transportasi terputus.
-
Pekerja harian yang bergantung pada jalur tersebut terlambat masuk kantor atau bahkan tidak bisa bekerja.
“Ini bukan hanya soal macet, tapi juga soal ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Semua orang terdampak,” keluh salah satu warga yang ikut dalam aksi penolakan.
Perempuan Bersuara: Inisiatif Murni Warga
Di tengah situasi tersebut, ratusan ibu-ibu rumah tangga mendatangi Kantor Bupati Bantaeng. Dengan suara lantang, mereka menyampaikan keberatan dan meminta agar aksi buruh tidak lagi mengorbankan kepentingan masyarakat luas.
“Kami dari Perempuan Bersuara meminta kepada pendemo untuk tidak menutup akses jalan poros penghubung antara Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Jeneponto,” tegas Karmen, salah satu perwakilan ibu-ibu.

Baca Juga: Emak-Emak Bantaeng Hadang Demonstran“Kami Sudah Tiga Hari Jadi Korban!”
Ia menegaskan, aksi yang mereka lakukan lahir dari keresahan murni masyarakat, bukan digerakkan oleh pihak tertentu.
“Silakan berdemo, kami tidak melarang. Tapi jangan sampai menutup akses jalan. Dampaknya bukan hanya kami di Bantaeng, tapi juga warga di kabupaten tetangga dan semua pengguna jalan,” lanjut Karmen.
Sikap Tegas Pendemo: Jalan Ditutup untuk Tekanan Politik
Sementara itu, Junaedi Hambali, pemimpin aksi SBIPE KIBA, mengonfirmasi bahwa demonstrasi akan berlanjut hingga hari keempat. Menurutnya, penutupan jalan memang strategi yang dipilih buruh agar tuntutan mereka mendapat perhatian serius dari pemerintah.
“Aksi hari keempat memang sudah kami sepakati sejak semalam, melihat situasi dan tensi dari pengguna jalan yang semakin meningkat,” ujar Junaedi melalui sambungan telepon.
Ia mengakui bahwa penutupan jalan sengaja dilakukan untuk memberikan tekanan. “Selama tiga hari sebelumnya kami menutup jalan dengan harapan pemerintah segera memberikan perhatian dan solusi atas tuntutan para buruh,” tambahnya.




